Langsung ke konten utama

Merangkai Jejak (cerpen bagian 2)

Balas dendam terbaik adalah dengan kesuksesan, itulah caraku. Karena tak bisa aku mengeluh atas segala keterbatasanku, karena rasanya tak pantas marah atas apa yang tak seharusnya aku miliki. Jika memang aku juga akan lanjut studi, jika memang tuhan punya rencana untukku, pasti akan tiba waktunya.
"kunyuk, aku berangkat yah" pesan whatsapp terkirim. Dibaca. Mengetik. "hati-hati yah" Si Kunyuk membalas.
Si Kunyuk ini makhluk anomali yang paling tidak bisa ditebak. Kadang cerah ceria seperti matahari pagi, kadang dingin menusuk seperti hembusan angin tengah malam, kadang damai menenangkan seperti ceramah subuh di radio yang selalu bapakku dengarkan. Intinya dia manusia aneh. Mungkin dia punya spesis tersendiri. Sejenis golongan manusia-manusia unik yang bikin harimu bisa kacau tak karuan.

*** dua tahun lalu***
Dua pesan diterima. Ku cek hp setelah jam mengajarku berakhir jam 9 malam. Ku ambil hp, tas, bergegas pulang. Lelah 2 jam berdiri di atas high heel shoes di depan papan tulis. Yah beginilah nasib guru les-lesan yang kelasnya sejak siang hingga malam hari. Lelah tapi setidaknya dari sanalah rezekiku mengalir. Hidup memang keras kawan.
Sambil menyusuri lorong yang diterangi lampu jalan itu, ku buka 2 sms muncul di layar hpku.
"besok mau ujian tesis, tapi tidak ada lagi Dewi Eka yang menemani seperti ujian s1 dulu" pengirim Anita Ayu. Sahabat baik dan teman seperjuangan semasa kuliah dulu.
Senyum aku membaca pesan itu. Senyum sedih campur senang. Jalan kita sudah beda kawan.kataku dalam hati.
Pesan ke dua "kamu lanjut kulya juga dong. Mau tua mengajar seperti itu?" pengirim Si Kunyuk. Langkahku terhenti. Mematung. Sejenak. Tak tahu harus berkata apa. Entah karena pengirimnya sejenis makhluk planet yang suka yang akur hanya kalau tuhan mengizinkan atau karena yang dia katakan itu benar. Tiba-tiba rasa perih datang, entah datang dari mana. Tapi rasanya sakit.
“ayo, kamu daftar juga beasiswa tahap selanjutnya, aku tungguin deh, biar kita kuliah bareng akhir tahun depan” sambil duduk santai di teras kantorku, Si Kunyuk mulai memprovokasi. No. jawabku dalam hati. Hanya tersenyum aku saat itu. Senyum-senyum kecut. Siapa yang tak ingin mengejar impiannya, siapa coba? Siapa? Dasar Kunyuk.
“aku berangkat yah” itu smsnya saat meninggalkan Kendari menuju tanah Jawa, tempat ia akan studi. Sebuah salam perpisahan yang sangat tidak sopan. Tidak ku balas. Jelaslah. Dia datang dan pergi sesuka hati. Dasar manusia anomaly. Seorang teman SMA yang tak pernah akur denganku.
“aku sudah tiba di Jogja” sms Si Kunyuk lagi, saat aku tidur di malam harinya. Tiba-tiba, ada sebutir air mata jatuh di ujung mataku. Aneh. Mungkin itu air mata tak sengaja, iya itu pasti air mata tak sengaja. Entahlah.
***September 2016***
Kali ini tak ada air mata untukku. Hanya sedikit ragu. Akankah aku bertahan untuk studi di negeri ratu Elizabeth? Akankah aku temui teman-teman baik dalam perjalanan ini? Akankah teman-teman tetap sama saat aku kembali?
Kalau manusia kayak Si Kunyuk, dia pasti akan tetap seperti itu. Selalu anomaly. Tapi, entahlah. Mungkin anomalipun pada akhirnya akan menetap dan stabil pada satu titik.

Bersambung …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personal Statement!!! I'm coming...

Halo semuanya!!! Kabar gembira untuk anda semua *ini bukan iklan lohh. Dalam tulisan kali ini saya akan sedikit berbagi tentang berkas-berkas yang kamu butuhkan saat ingin berburu LOA, surat sakti tanda diterima di universitas di luar negeri. Dibacanya dengan hati yah, biar setresssnya dapet, hehehe. Tapi jangan sampai "baper" yah (pengalaman pribadi dulu baper cari LOA ) karena walaupun terlihat susah tapi insyaAllah adaaa jalaannn hooo... loh kok nyanyi, *maapin yoo. Intinya kalau kita berhenti berusaha (dibaca:menyerah) maka selesailah semuanya. Here we go. Sekarang saya sudah tiba di Exeter, Devon, UK. Masih pusing pengaruh kelamaan di pesawat tapi mumpung masih ada waktu berleha-leha makanya dimanfaatkan . Di postingan sebelumnya, saya janji untuk share tentang personal statement (surat ini jadi salah satu pertimbangan kampus dalam menerima mahasiswanya). Jadi kalau teman-teman ingin lanjut di luar negeri, harus bisa buat personal statemnt sendiri dalam bahas...

LoA, Jembatan Menuju Beasiswa

Halooooo..... Apa kabar teman-teman dimanapun berada. :D Waktu baru menunjukan pukul 4.30 am (waktu Exeter, UK) saat saya memulai tulisan ini, entah jam berapa di kampung halaman saya, hiks hiks *mulai homesick/cengeng banget sih, wkwkwk, Berhubung perkuliahan belum benar-benar dimulai, saya rasa ini waktu yang tepat untuk membagikan sedikit cerita tentang apa yang terjadi saat kita ingin SERIUSS kuliah di luar negeri. Harus serius loh, karena perjalanan untuk menuju "ke sana" sangat panjang dan berliku, serius deh. Beberapa orang mungkin menghabiskan setahun persiapan, mungkin kurang, tapi dari yang saya lihat dan alami, 1 tahun lebih (banyak lebihnya) untuk mewujudkannya. Saya sendiri mulai "bergerak" memburu kesempatan kuliah di luar negeri pada bulan Maret 2015 dan akhirnya bisa berangkat pada bulan September 2016. Jadiiiii yah hitung sendirilah, lama kan? Tapi jangan karena lama lantas menyerah, jangan karena susah lantas putus asa. Kalau orang lain ...

Kuliah Di Luar Negeri (Mimpi yang diusahakan dengan mata terbuka)

Halo semua! Perkenalkan nama saya Sukmawati. Biasa dipanggil Sukma (ada beberapa nama panggilan lain tapi ga penting untuk dibahas,wkwkwk). Ini postingan pertama saya di blog ini (sebenarnya postingan ini adalah nazar yang saya buat kalau saya bisa sampai lulus beasiswa LPDP ^_^ agar semakin banyak anak muda dari daerah bisa melanjutkan studi hingga ke luar negeri). Saat ini saya sedang menunggu keberangkatan untuk studi Master of Education in Teaching English to Speakers of Other Languages (M.Ed. TESOL) di University of Exeter, UK, InsyaAllah lusa 9 September 2016. Alhamdulillah. Kalau ada yang bilang, studi ke luar negeri itu butuh modal awal uang yang buaanyyakk dan otak yang encerrrr, kalau saya lebih percaya kalau yang dibutuhkan paling utama adalah niat yang tak redup dan usaha yang tak putus asa. Terdengar lebay tapi dari yang saya alami seperti itu. Orang lain mungkin punya cerita berbeda. Saya harus menunggu 3 tahun untuk bekerja dan bersabar karena keadaan keluarga ya...